0 %
travel-jerman-laiqamagz
Inspiration | 30/07/2015

Warna-Warni Kehidupan Muslimah Indonesia di Jerman

by: Laiqa Magazine

travel-jerman-laiqamagz

 

Oleh : Nadhira Arini Nur Imammah

 

“Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.“- Imam Syafi‘i

 

Membaca sepenggal syair nasihat yang dibuat oleh Imam Syafi‘i diatas, mengingatkan saya akan pengalaman luar biasa saya selama dua setengah tahun di negerinya Paman Hitler, Jerman. Betapa senangnya hati saya ketika pertama kali menginjakkan kaki ke negara yang saya sendiri tidak pernah membayangkan akan tinggal di sana dalam jangka waktu yang cukup lama.

Tahun pertama di Jerman, saya habiskan tinggal bersama keluarga asuh di suatu desa terpencil bernama Dunningen yang letaknya kurang lebih satu setengah jam dari Kota Stuttgart. Saya ikut program homestay atau biasa dikenal dengan istilah Au-pair, yaitu tinggal selama satu tahun di sebuah keluarga Jerman. Di sini, saya menjadi kakak bagi tiga adik asuh saya. Kehidupan saya selama satu tahun ditanggung oleh keluarga asuh saya di sana dan saya juga dikursuskan Bahasa Jerman yang letaknya di kota sebelah.

IMG_5357

Sebagian besar para orang tua di Jerman khususnya orang tua asuh saya mewajibkan anak-anaknya untuk main keluar rumah ketika cuaca cerah. Alasannya karena cuaca di Jerman tidak pernah stabil. Terkadang hal ini membuat kesal karena jarang sekali matahari bersinar terang seperti di Indonesia. Akibatnya, anak-anak seringkali terpaksa terkurung di dalam rumah karena cuaca yang tidak mendukung untuk hanya sekedar bermain di halaman rumah. Dalam satu hari saja bisa muncul lima cuaca yang berbeda-beda. Dalam satu hari, matahari yang tiba-tiba terang benderang, beberapa menit kemudian bisa turun hujan. Terkadang diselingi badai besar yang bisa menumbangkan pohon besar, hujan es yang bunyinya menyeramkan di atas atap (bahkan pernah muncul hujan es yang besar esnya sebesar bola tenis), salju yang tiba-tiba datang di musim semi dan cuaca aneh lainnya. Tahun pertama di Jerman, saya kena sial mendapatkan musim dingin terpanjang di Jerman yang turun selama kurang lebih enam bulan. Betapa tersiksanya saya saat itu. Berbulan-bulan saya rindu cuaca hangat Indonesia. Saya harus pasrah menghadapi cuaca minus selama berbulan-bulan yang sukses membuat kulit saya luka-luka sendiri saking keringnya kulit saya. Body lotion yang khusus untuk kulit ekstra kering sekalipun sudah tidak punya efek apa-apa lagi di kulit saya. Ibu saya sampai shock ketika ber-webcam ria bersama saya melalui Skype; kedua tangan anak sulungnya penuh bekas luka akibat siksaan musim dingin yang tidak berkesudahan.

travel-deutschland-jerman

Di tahun berikutnya, yaitu tahun 2013, saya mendapatkan kesempatan untuk memperpanjang satu tahun izin tinggal saya di Jerman melalui program kerja sosial di bagian anak-anak berkebutuhan khusus. Kalau dalam Bahasa Jerman, program ini bernama Frewilliges Soziales Jahr. Saya diterima kerja di Annastift; lembaga sosial besar di Kota Hannover. Pada akhir Februari 2013, saya pindah rumah. Dari desa yang letaknya di bagian selatan Jerman ke kota besar yang letaknya di daerah utaranya Jerman.

U

Hannover menurut saya adalah kota yang sangat nyaman untuk ditinggali oleh orang asing seperti saya. Selain memang kotanya sangat nyaman, penduduknya tidak pernah mendiskriminasi saya yang beragama Islam dan mengenakan kerudung. Jika waktu shalat tiba dan saya tidak sedang di rumah, saya tinggal datang ke masjid terdekat. Di kota ini terdapat cukup banyak masjid. Sering sekali saya melihat di pusat kota Hannover, orang-orang Turki atau Arab yang membagikan Al-Qur’an berbahasa Jerman secara gratis. Mereka dengan senang hati menjelaskan tentang indahnya agama Islam kepada orang lewat yang penasaran bertanya.

Selama dua setengah tahun di Jerman, saya juga sempat merasakan dua kali puasa Ramadhan di Musim Panas. Durasinya tidak tanggung-tanggung, kurang lebih sembilan belas jam. Jadwal waktu shalat di Jerman tidak pernah sama, terlebih pada musim panas. Waktu Subuh sekitar jam tiga pagi sedangkan waktu Maghrib jam setengah sepuluh malam dan Isya sekitar setengah dua belas malam. Bayangkan perut kita yang masih penuh setelah berbuka puasa, namun beberapa jam kemudian sudah masuk waktu sahur lagi.

Pengalaman puasa saya yang kedua itu paling heboh dan tak terlupakan karena saya berpuasa sambil bekerja. Sembilan anak-anak berkebutuhan khusus di tempat saya bekerja, semuanya memiliki cacat fisik, menggunakan kursi roda dan tidak dapat melakukan banyak hal sendirian. Saya bertugas membantu mereka jika mereka membutuhkan pertolongan. Pada waktu itu, salah satu anak ingin sekali jika saya membantunya dari mulai ia bangun tidur, mandi sampai selesai dandan karena hari itu temannya ada yang berkunjung. Hari itu adalah hari yang cukup melelahkan buat saya, karena baru membantu dia mengangkat badannya dari atas tempat tidur menggunakan suatu alat saja, sudah menguras habis tenaga saya yang pada saat itu sedang berpuasa. Maklum, berat badannya di atas seratus kilogram. Saya hampir pingsan ketika sedang merias wajahnya karena terlalu lama berdiri. Alhamdulillah, ia mengerti keadaan saya yang sedang berpuasa dan mempersilakan saya istirahat sampai tenaga saya terkumpul kembali.

Di Jerman, makanan halal sulit sekali dicari. Tapi biasanya toko-toko Turki menjual makanan halal. Dari mulai bumbu-bumbu, daging-daging mentah dan makanan siap saji (seperti kebab dan makanan khas turki lainnya). Walau begitu, saya tetap bertanya barang yang mereka jual halal atau tidak ke restoran yang saya kunjungi; karena tidak semua toko Turki menjual produk halal. Hal yang harus saya perhatikan ketika saya berbelanja adalah selalu memeriksa bahan apa saja yang terdapat di bagian belakang makanan atau minuman yang saya beli. Kalau saya tidak jeli, terkadang makanan tersebut mengandung bahan-bahan yang berasal dari babi dan alkohol. Kalau belum yakin juga, bisa bertanya secara detail mengenai bahan apa saja yang dipakai dalam pembuatan makanan dan minuman tersebut dengan cara mengirim email ke perusahaan pembuatnya. Mereka akan dengan senang hati membalas email dan menjabarkan dengan rinci pertanyaan yang diajukan.

Muslim di Jerman adalah golongan minoritas, karena itulah kami, muslim yang berasal dari Indonesia semakin sadar akan pentingnya kegiatan keagamaan. Selain agar wawasan agama Islam terus bertambah, juga sebagai ajang silaturrahmi. Hampir setiap kota memiliki kelompok pengajian. Di kota tempat saya tinggal, nama pengajiannya Keluarga Muslim Hannover. Kami biasanya mengadakan pengajian sebulan sekali. Jika cuaca cerah saya sering diundang oleh Grup Pengajian untuk barbeque-an di taman. Lumayan, bisa mendapatkan makanan khas Indonesia buatan ibu-ibu Indonesia. Di Berlin juga terdapat Masjid Indonesia yang letaknya masih di dalam kamar apartemen. Kabar terakhir yang saya dengar, komunitas muslim Indonesia yang tinggal di Frankfurt dan Berlin sedang mengumpulkan dana untuk membangun Masjid Indonesia di kedua kota tersebut.

Selama dua setengah tahun di Jerman, saya semakin menyadari nasihat di dalam puisi Imam Syaf’i. Di sana, saya benar-benar merasakan arti perjuangan yang sesungguhnya dan belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi. Dengan merantau ke Jerman, saya akhirnya dapat melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda. Terima kasih Ya Allah, pengalaman manis yang Engkau berikan kepada saya akan selalu saya kenang selamanya.

DSC_0348

Share this article

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>